DESTRUKSI DAN DEKOMPOSISI MATERIAL TUMBUHAN
Proses yang berlangsung
setelah material tumbuhan mati dapat dibedakan
atas empat tahapan yaitu : a) rotting, b) mouldering, c)
putrefaction, d) peatifcation. Semua proses tersebut terjadi dengan adanya
peran serta bakteri aerobic dan anaerobic, jamur, larva, cacing, berbagai enzim
pada kondisi bawah air serta campuran mineral dan gas (secara umum proses ini
dapat dibandingkan dengan fermentasi).
Mikroorganisme
aerobic hanya dapat bertahan jika tersedia oksigen bebas, sedangkan
mikroorganisme anaerobic memperoleh oksigen dari senyawa-senyawa kimia.
Hidrogen sulfide (H2S) bersifat racun terhadap mikroba. Sapropfit
dapat berkembang pada medium alkalin yang diproduksi oleh amonia yang berasal
dari protein.
Pembusukan
tumbuhan (perusakan makromolekul biokimia) umumnya terjadi lebih dahulu akibat
aksi agen aerobic pada kondisi oksidasi. Proses dekomposisi ini selanjutnya
dilakukan oleh bakteri anaerobic pada kondisi udara terbatas. Penimbunan
material menyebabkan perubahan Eh dari +0.05 menjadi –0.5 pada kedalaman antara
0 hingga 130 m, yang berdampak pada berubahan kualitas batubara.
Rotting merupakan proses
dekomposisi sempurna sisa-sisa tumbuhan pada kondisi oksidasi, produk akhirnya
berupa CO2 dan air. Hanya resin dan lilin yang tetap tidak berubah.
Mouldering terjadi pada kondisi
udara terbatas, dimana material tumbuhan mengalami saturasi dan kompressi.
Produk akhirnya juga berupa CO2 dan air. Zat-zat organic tidak
terdekomposisi secara sempurna sehingga menghasilkan residu padatan yang kaya
akan organic. Hal dapat dijumpai di daerah hutan basah sebagai zat humik hitam.
Sisa tumbuhan yang tidak terurai dapat berupa komponen mineral, resin, lilin,
suberin, cutin dan zat-zat lainnya yang lebih resisten. Proses yang sama dengan
mouldering adalah pembakaran tidak sempurna yang berlangsung singkat dan
intensif. Contohnya adalah pembatubaraan jaringan tumbuhan pada hutan yang
terbakar (fusinitisasi).
Humus
merupakan hasil penguraian lambat zat-zat organic pada lahan basah. Dengan
adanya zat organic, menyebabkan terjadinya proses oksidasi senyawa yang mudah
larut terutama garam-garam dari logam alkali, garam Mg dan Ca dan anion basa
kuat. Unsur-unsur jejak terperangkap pada lapisan humus, yang kemungkinan
terikat dengan asam tannin dan asam humik. Dengan demikian beberapa unsur yang
terikat dalam tanah sebagian bersifat toksit terhadap organisme tumbuhan,
misalnya arsen. Daya serap rata-rata lapisan humus lebih tinggi disbanding
dengan koloid alami yang bersal dari montmorilonit. Sejumlah unsure jejak yang
ada dalam humus juga muncul pada lapisan batubara. Sirkulasi
unsur-unsur
dalam tanah dikendalikan oleh kelarutan senyawanya. Larutan dalam tanah
mengandung sejumlah ion yang bersifat asam dan basa kuat yaitu; Na+,
Mg2+, Ca2+, Mn2+, Fe2+, Cl-,
SO42-, H2BO3-, CO32-,
dan NO3-.
Putrefaction adalah proses yang
didominasi oleh aksi mikroorganisme anaerobic yang menguraikan zat tumbuhan dan
fauna di bawah air tanpa udara. Lingkungan tersebut umumnya mempunyai Eh
negatif dan pH berkisar antara 7 – 9. Putrefaction terjadi pada kondisi
air tenang. Produk gas terutama berupa CH4, NH3, N2O,
N2, H2S, dan CO2. Metan umumnya berasal dari
hasil dekomposisi sakarida jaringan tumbuhan. Sisanya berupa zat cair atau
bitumen padat yang relative kaya hydrogen. Selain itu juga terbentuk kerogen
yaitu zat organic yang tidak larut dalam pelarut organic.
Putrefaction adalah suatu proses
penguraian organisme aquatic seperti plankton, alga, serangga, spora, dan
pollen. Material ini ditutupi oleh ooze – sapropel yang terbentuk akibat putrefaction
protein. Zona formasi sapropel disebut zona H2S. Sapropel yang kaya
C seperti pada gambut, namun sebetulnya gambut dari sapropel relative kaya akan
H dan N. Sapropel resin hamper tidak menunjukkan sisa-sisa struktur organic di
bawah mikroskop.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar