Kamis, 23 Januari 2014

KLASIFIKASI SUMBER DAYA DAN CADANGAN BATUBARA


KLASIFIKASI SUMBER DAYA DAN CADANGAN BATUBARA

Oleh

Badan Standarisasi Nasional – BSN, 1997

 

Latar Belakang

Batubara merupakan bahan galian yang strategis dan salah satu bahan baku energi nasional yang mempunyai nilai ekonomi yang penting. Informasi mengenai sumber daya dan cadangan batubara menjadi hal yang mendasar di dalam merencanakan strategi kebijaksanaan energi nasional.

Dewasa ini pemerintah tengah meningkatkan pemanfaatan batubara baik sebagai energi alternative untuk keperluan domestic, seperti pada sector industri dan pembangkit tenaga listrik, maupun untuk sektor ekspor. Sejalan dengan itu, pemerintah telah melibatkan pihak swasta dalam pengusahaan pengembangan batubara.

Cara penggolongan sumber daya dan cadangan batubara di Indonesia masih beragam sehingga dirasakan perlu untuk membuat suatu standar yang dapat digunakan sebagai pedoman di dalam pengklasifikasian sumber daya dan cadangan batubara Indonesia. Dengan demikian, standar ini diharapkan dapat menghindari kerancuan dalam menaksirkan berbagai istilah dan pengertian yang berkenaan dengan sumber daya dan cadangan batubara Indonesia.

 

Ketebalan lapisan batubara

Ketebalan lapisan batubara (seam thickness) adalah jarak terpendek antara atap dan lantai batubara yang diukur pada singkapan batubara (surface outcrop), lubang bor (borehole), dan pengamatan pada tambang dalam aktif (working underground mining).

Lapisan batubara seringkali, meskipun tidak selalu, terdiri atas sub lapisan yang mempunyai karakteristik masing-masing dan kadang-kadang dipisahkan oleh pengotor (rock/dirt partings) dengan ketebalan yang bervariasi.

Table 4

Persyaratan kuantitatif ketebalan

Lapisan batuibara dan lapisan pengotor

 

 
KETEBALAN
Peringkat batubara
Batubara coklat
(Brown coal)
Batubara keras
(Hard coal)
Lapisan batubara minimal (m)
Lapisan pengotor (m)
 
>1,00
< 0,30
> 0,40
< 0,30

Batubara coklat (Brown coal)

Batubara coklat (Brown coal) adalah jenis batubara yang paling rendah peringkatnya, bersifat lunak, mudah diremas, mangandung kadar air yang tinggi (10-70%), terdiri atas batubara coklat muda lunak (soft brown coal) dan batubara lignitik atau batubara cokelat keras (lignitik atau hard brown coal) yang memperlihatkan struktur kayu. Nilai kalorinya < 5700kal/gr (dry mineral matter free).

 

Batubara keras (Hard coal)

Batubara keras (Hard coal) adalahsemua jenis batubara yang peringkatnya lebih tinggi dari brown coal, bersifat klebih keras, tidak mudah diremas, kompak, mengandung kadar air yang relative rendah, umumnya struktur kayunya tidak tampak lagi, relative tahan terhadap kerusakan fisik pada saat penanganan (coal handling). Nilai kalorinya > 5700 kal/gr (dry mineral matter free).

DESTRUKSI DAN DEKOMPOSISI MATERIAL TUMBUHAN


DESTRUKSI DAN DEKOMPOSISI MATERIAL TUMBUHAN


 

Proses yang berlangsung setelah material tumbuhan mati dapat dibedakan  atas empat tahapan yaitu : a) rotting, b) mouldering, c) putrefaction, d) peatifcation. Semua proses tersebut terjadi dengan adanya peran serta bakteri aerobic dan anaerobic, jamur, larva, cacing, berbagai enzim pada kondisi bawah air serta campuran mineral dan gas (secara umum proses ini dapat dibandingkan dengan fermentasi).

 

Mikroorganisme aerobic hanya dapat bertahan jika tersedia oksigen bebas, sedangkan mikroorganisme anaerobic memperoleh oksigen dari senyawa-senyawa kimia. Hidrogen sulfide (H2S) bersifat racun terhadap mikroba. Sapropfit dapat berkembang pada medium alkalin yang diproduksi oleh amonia yang berasal dari protein.

 

Pembusukan tumbuhan (perusakan makromolekul biokimia) umumnya terjadi lebih dahulu akibat aksi agen aerobic pada kondisi oksidasi. Proses dekomposisi ini selanjutnya dilakukan oleh bakteri anaerobic pada kondisi udara terbatas. Penimbunan material menyebabkan perubahan Eh dari +0.05 menjadi –0.5 pada kedalaman antara 0 hingga 130 m, yang berdampak pada berubahan kualitas batubara.

 

Rotting merupakan proses dekomposisi sempurna sisa-sisa tumbuhan pada kondisi oksidasi, produk akhirnya berupa CO2 dan air. Hanya resin dan lilin yang tetap tidak berubah.

 

Mouldering terjadi pada kondisi udara terbatas, dimana material tumbuhan mengalami saturasi dan kompressi. Produk akhirnya juga berupa CO2 dan air. Zat-zat organic tidak terdekomposisi secara sempurna sehingga menghasilkan residu padatan yang kaya akan organic. Hal dapat dijumpai di daerah hutan basah sebagai zat humik hitam. Sisa tumbuhan yang tidak terurai dapat berupa komponen mineral, resin, lilin, suberin, cutin dan zat-zat lainnya yang lebih resisten. Proses yang sama dengan mouldering adalah pembakaran tidak sempurna yang berlangsung singkat dan intensif. Contohnya adalah pembatubaraan jaringan tumbuhan pada hutan yang terbakar (fusinitisasi).

 

Humus merupakan hasil penguraian lambat zat-zat organic pada lahan basah. Dengan adanya zat organic, menyebabkan terjadinya proses oksidasi senyawa yang mudah larut terutama garam-garam dari logam alkali, garam Mg dan Ca dan anion basa kuat. Unsur-unsur jejak terperangkap pada lapisan humus, yang kemungkinan terikat dengan asam tannin dan asam humik. Dengan demikian beberapa unsur yang terikat dalam tanah sebagian bersifat toksit terhadap organisme tumbuhan, misalnya arsen. Daya serap rata-rata lapisan humus lebih tinggi disbanding dengan koloid alami yang bersal dari montmorilonit. Sejumlah unsure jejak yang ada dalam humus juga muncul pada lapisan batubara. Sirkulasi

unsur-unsur dalam tanah dikendalikan oleh kelarutan senyawanya. Larutan dalam tanah mengandung sejumlah ion yang bersifat asam dan basa kuat yaitu; Na+, Mg2+, Ca2+, Mn2+, Fe2+, Cl-, SO42-, H2BO3-, CO32-, dan NO3-.

 

Putrefaction adalah proses yang didominasi oleh aksi mikroorganisme anaerobic yang menguraikan zat tumbuhan dan fauna di bawah air tanpa udara. Lingkungan tersebut umumnya mempunyai Eh negatif dan pH berkisar antara 7 – 9. Putrefaction terjadi pada kondisi air tenang. Produk gas terutama berupa CH4, NH3, N2O, N2, H2S, dan CO2. Metan umumnya berasal dari hasil dekomposisi sakarida jaringan tumbuhan. Sisanya berupa zat cair atau bitumen padat yang relative kaya hydrogen. Selain itu juga terbentuk kerogen yaitu zat organic yang tidak larut dalam pelarut organic.

Putrefaction adalah suatu proses penguraian organisme aquatic seperti plankton, alga, serangga, spora, dan pollen. Material ini ditutupi oleh ooze – sapropel yang terbentuk akibat putrefaction protein. Zona formasi sapropel disebut zona H2S. Sapropel yang kaya C seperti pada gambut, namun sebetulnya gambut dari sapropel relative kaya akan H dan N. Sapropel resin hamper tidak menunjukkan sisa-sisa struktur organic di bawah mikroskop.

Sedimentologi Batubara


SEDIMENTOLOGI  BATUBARA


 

Pengantar


 

Lapisan sediment yang mengandung gambut atau batubara terdapat di banyak tempat di dunia yang berumur mulai dari Paleozoikum Akhir hingga Resent. Batubara merupakan hasil akumulasi rombakan material tumbuhan yang terbentuk pada lingkungan pengendapan tertentu. Akumulasi ini dipengaruhi oleh proses synsedimenter dan postsedimenter yang menghasilkan endapan batubara dengan berbagai peringkat dan tingkat kompleksitas struktur geologinya.

 

Sedimentasi dan Lapisan Batuan Pembawa Batubara


 

Dewasa ini minat mempelajari proses sedimentasi batubara begitu tinggi, terutama karakteristik lingkungan fluviatil dan delta. Ahli geologi batubara perlu mengetahui prinsip dasar dalam pengenalan lingkungan pengendapan yang menyangkut proses fisik yang terjadi agar dapat menghasilkan lapisan batubara yang bernilai ekonomis. Selain itu pemahaman mengenai bentuk, morfologi dan mutu batubara merupakan hal mendasar dalam perencanaan dan menambangan batubara.

 

Model-model Pengendapan


 

Pengenalan model pengendapan yang dapat menjelaskan pembentukan lapisan pembawa batubara dan hubngannya terhadap lingkungan sekelilingnya dapat dilakukan dengan membandingkan lingkungan pembentukan gambut modern dengan lapisan pembawa batubara (Tabel…)

 

Tabel….

 

Karakteristik
Fluvial dan Upper Delta Plain
Transitional Lower Delta Plain
Lower Delta Plain
Back Barrier
Barrier
 
 
 
 
 
 
 
 

 

 

Model pengendapan tradisional yang digunakan oleh banyak ahli didasarkan pada “cyclothem” yakni suatu seri litotipe yang terbentuk pada siklus yang berulang-ulang. Saat ini konsep tersebut telah dimodifikasi menjadi suatu model yang berkaitan dengan perubahan lateral dan vertical pada kondisi pengendapan yang sudah  diketahui yakni pada system fluvial, deltaic, dan coastal barrier. Urutan perlapisan atau litofasiesnya dicirikan oleh kenampakan sedimentasinya.

 

-Fasies Coastal Barrier dan Back Barrier

 

Model pengendapan pantai dicirikan oleh batupasir penghalang, ke arah laut butirannya lebih halus dengan sisipan serpih dan batuan karbonat. Ke arah daratan bergradasi menjadi serpih lagonal warna hitam dengan adanya fauna air payau dan pada sisi rawa tumbuh pepohonan. Batupasir penghalang (barrier sandstone) mengalami perombakan kembali secara terus menerus, sehingga kandungan kuarsanya lebih tinggi dibanding dengan batupasir di sekitarnya yang mempunyai sumber yang sama.

 

Batupasir penghalang ini menunjukkan variasi perlapisan yaitu adanya belahan bidang perlapisan serta ripple dan burrow pada bagian atasnya. Hal ini dapat ditapsirkan sebagai “storm washover sand”. Tubuh batuan yang memanjang ke arah darat bisa mencapai ketebalan 6 m, terdapat struktur silang siur, dan bidang miring yang ditapsirkan sebagai endapan “delta banjir pasang” (flood tide delta) kemudian batupasir pengisi saluran yang ditapsirkan sebagai “endapan saluran pasang surut”.

 

Rekonstruksi pengendapan didasarkan studi yang dilakukan di Amerika. Lingkungan back-barrier lagonal dicirikan oleh coarsening upward, serpih yang kaya organic dan batulanau yang ditindih oleh batubara tipis dan tidak menerus. Lapisan ini menunjukkan zona bioturbasi yang kuat disertai oleh adanya lapisan tipis dan konkresi besi karbonat yang terpresipitasi secara kimia (siderite). Penyebaran batuan ini diperkirakan mencapai 20 – 30 m dengan lebar antara 5 – 25 km (Gambar…)

 

-Fasies Lower Delta Plain

 

Endapan lower delta plain didominasi oleh sikuen coarsening upward, mudstone, dan batulanau dengan ketebalan 15 – 55 m serta penyebaran lateral mencapai 8 – 110 km. Bagian bawah sikuen ini dicirikan oleh mudstone kelabu – hitam dengan sisipan batugamping dan siderite.

 

Pada bagian atas umumnya disusun oleh batupasir yang mencerminkan peningkatan energi air dangkal, sehingga terjadi pengisian muara oleh sediment. Bila muara telah terisi sedimen yang cukup, maka tanaman dapat tumbuh di atasnya yang pada akhirnya batubara dapat terbentuk. Namun jika muara tidak diisi oleh sediment yang cukup, maka akan terbentuk bioturbasi, batupasir dengan semen berupa siderit dan batulanau. Pola coarsening upward tersebut dapat terpotong di beberapa tempat oleh crevasse splay. Pada beberapa kasus, sikuen transitional lower delta plain, endapannya merupakan perselingan antara channel, interdistributary bay dan crevasse splay (gambar…..)

 

Fasies dan Lingkungan Pengendapan batubara


 

Pada umumnya studi fasies batubara dapat digunakan untuk merekonstruksi model pengendapan yang ditapsirkan bahwa batubara merupakan hasil pengendapan rawa. Studi pada lapisan batubara itu sendiri difokuskan pada analisis petrologi dan ditambah dengan analisis sediment di sekelilingnya.

 

Model pengendapan gambut/batubara saat ini menjadi banyak perhatian terutama jika dikaitkan dengan kualitas batubara sebagai bahan tambang. Sekitar 3 % permukaan bumi ini ditutupi oleh lahan gambut. Keragaman bentuk gambut sangat ditentukan oleh adanya fluktuasi muka air tanah serta curah hujan yang tinggi.

 

Istilah “mire” atau “moor” meliputi semua lahan basah (rawa) dimana akumulasi gambut bias terjadi. Akumulasi gambut mengikuti persamaan kesetimbangan sebagai berikut :

 

Aliran Masuk + Hujan            =          Aliran Keluar + Penguapan + Retensi

 

Kondisi yang diperlukan agar gambut dapat terakumulasi adalah adanya keimbangan antara produksi tanaman dan pembusukan organic. Ini merupakan fungsi iklim. Karena gambut relative kedap air, maka pertumbuhannya dapat menghambat aliran air pada daerah yang luas, sehingga lahan gambut yang cekung (low moor) menjadi sangat luas. Pada daerah dimana presipitasi tahunan melebihi penguapannya, serta tidak ada periode kering yang panjang, maka akan berkembang “raised mire” (high moor). Gambut dapat tumbuh ke arah atas karena muka air tetap bertahan. Perkembangan suatu lingkungan pembentukan gambut dari low mor menjadi high moor akan menghasilkan zonasi pengendapan gambut.

 

Model-model pengendapan dapat menunjukkan pembentukan gambut berdampingan dan bersisipan dengan lingkungan pengendapan klastik aktif. Akmulasi gambut tersebut pada daerah antar saluran di paparan delta dapat dipotong oleh adanya kontaminasi klastik dari crevasse-splay atau oleh adanya penurunan daerah antar saluran yang menyebabkan terendamnya gambut, terhentinya akumulasi dan adanya influks klastik.

 

Sedimen-sedimen juga dapat masuk ke rawa “low moor” oleh banjir, badai atau pasang naik. Kontaminasi klastik ini menyebabkan batubara mempunyai kadar abu tinggi.

 

Batubara berkadar abu rendah terbentuk pada daerah yang bebas dari pengendapan klastik dalam waktu yang relative lama, mungkin sampai berabad-abad. Parting pada batubara seperti mudstone, menunjukkan adanya penghentian sementara pengendapan gambut dan bias berlangsung ribuan tahun lamanya.

 

Pengamatan pada endapan gambut di paparan delta modern menunjukkan kadar abu lebih dari 50 % db, dan gambut yang abunya kurang dari 25 % db jarang melebihi tebal 1 m. Bila gambut ini terawetkan dalam waktu geologi, maka akan terbentuk mudstone karbonan dengan urat-urat batubara (coaly stringer).

 

Studi pada lingkungan pengendapan modern menunjukkan bahwa tempat pembentukan gambut dengan kadar abu rendah bukan pada paparan delta, dan kebanyakan moor pada daerah pantai atau dataran banjir juga bukan tempat yang baik untuk terakumulasinya gambut terkecuali daerah itu berkembang “high moor”.

 

Mire yang mengambang juga dapat memproduksi gambut berkadar abu rendah, namun penyebarannya terbatas.

 

Studi pada “raised mire” menunjukan kandungan kandungan abu kurang dari 5 %, dan pada daerah yang luas bias mencapai 1 – 2 %. Laju akumulasi organic pada “raised bog” melebihi laju sedimentasi dari overbank atau banjir pasang. Akan tetapi meskipun batubara kadar abu rendah berasal dari “raised mire” namun ada juga yang terbentuk selain lingkungan tersebut.

 

Ada yang beranggapan bahwa batubara berkadar abu rendah berasal dari gambut yang sama dengan kadar abu tinggi, namun penurunan abu terjadi selama proses pembatubaraan. Air asam dapat mempercepat proses pelarutan berbagai mineral, tetapi tidak semua rawa bersifat asam dan bahkan ada yang mengandung material karbonatan. Anggapan lain adalah bahwa akumulasi gambut tidak bersamaan dengan pengendapan sediment klastik, menunjukan bahwa pemebntukan batubara beda dengan sediment di atas atau di bawahnya. Pada rawa yang dirembesi dengan air laut, dapat diketahui dari kadar sulfurnya yang tinggi.

Sebagai kesimpulan terhadap mekanisme kontaminasi klastik pada gambut, “raised mire” dapat mempertahankan permukaannya dengan agradasi saluran dan dapat menghambat sediment fluvial. Jika ini terjadi, maka gambut tebal dapat mempengaruhi geometri pengendapan yang berdampingan dengan akumulasi klastik.    

Tektonika Lempeng

Tektonika lempeng


 
Lempeng-lempeng tektonik di bumi barulah dipetakan pada paruh kedua abad ke-20.
Tectonics plates (preserved surfaces)
Teori tektonika Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori dalam bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori Pergeseran Benua yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an.
Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi.
Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform (menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung, dan pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan 50-100 mm/a.[1]

 


Perkembangan Teori

Peta dengan detail yang menunjukkan lempeng-lempeng tektonik dan arah vektor gerakannya
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, geolog berasumsi bahwa kenampakan-kenampakan utama bumi berkedudukan tetap. Kebanyakan kenampakan geologis seperti pegunungan bisa dijelaskan dengan pergerakan vertikal kerak seperti dijelaskan dalam teori geosinklin. Sejak tahun 1596, telah diamati bahwa pantai Samudera Atlantik yang berhadap-hadapan antara benua Afrika dan Eropa dengan Amerika Utara dan Amerika Selatan memiliki kemiripan bentuk dan nampaknya pernah menjadi satu. Ketepatan ini akan semakin jelas jika kita melihat tepi-tepi dari paparan benua di sana.[2] Sejak saat itu banyak teori telah dikemukakan untuk menjelaskan hal ini, tetapi semuanya menemui jalan buntu karena asumsi bahwa bumi adalah sepenuhnya padat menyulitkan penemuan penjelasan yang sesuai.[3]
Penemuan radium dan sifat-sifat pemanasnya pada tahun 1896 mendorong pengkajian ulang umur bumi,[4] karena sebelumnya perkiraan didapatkan dari laju pendinginannya dan dengan asumsi permukaan bumi beradiasi seperti benda hitam.[5] Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa bahkan jika pada awalnya bumi adalah sebuah benda yang merah-pijar, suhu Bumi akan menurun menjadi seperti sekarang dalam beberapa puluh juta tahun. Dengan adanya sumber panas yang baru ditemukan ini maka para ilmuwan menganggap masuk akal bahwa Bumi sebenarnya jauh lebih tua dan intinya masih cukup panas untuk berada dalam keadaan cair.
Teori Tektonik Lempeng berasal dari Hipotesis Pergeseran Benua (continental drift) yang dikemukakan Alfred Wegener tahun 1912.[6] dan dikembangkan lagi dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans terbitan tahun 1915. Ia mengemukakan bahwa benua-benua yang sekarang ada dulu adalah satu bentang muka yang bergerak menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi seperti 'bongkahan es' dari granit yang bermassa jenis rendah yang mengambang di atas lautan basal yang lebih padat.[7][8] Namun, tanpa adanya bukti terperinci dan perhitungan gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini dipinggirkan. Mungkin saja bumi memiliki kerak yang padat dan inti yang cair, tetapi tampaknya tetap saja tidak mungkin bahwa bagian-bagian kerak tersebut dapat bergerak-gerak. Di kemudian hari, dibuktikanlah teori yang dikemukakan geolog Inggris Arthur Holmes tahun 1920 bahwa tautan bagian-bagian kerak ini kemungkinan ada di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus konveksi di dalam mantel bumi adalah kekuatan penggeraknya.[3][9][10]
Bukti pertama bahwa lempeng-lempeng itu memang mengalami pergerakan didapatkan dari penemuan perbedaan arah medan magnet dalam batuan-batuan yang berbeda usianya. Penemuan ini dinyatakan pertama kali pada sebuah simposium di Tasmania tahun 1956. Mula-mula, penemuan ini dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi,[11] namun selanjutnya justeru lebih mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang menjelaskan pemekaran (spreading) sebagai konsekuensi pergerakan vertikal (upwelling) batuan, tetapi menghindarkan keharusan adanya bumi yang ukurannya terus membesar atau berekspansi (expanding earth) dengan memasukkan zona subduksi/hunjaman (subduction zone), dan sesar translasi (translation fault). Pada waktu itulah teori tektonik lempeng berubah dari sebuah teori yang radikal menjadi teori yang umum dipakai dan kemudian diterima secara luas di kalangan ilmuwan. Penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara seafloor spreading dan balikan medan magnet bumi (geomagnetic reversal) oleh geolog Harry Hammond Hess dan oseanograf Ron G. Mason[12][13][14][15] menunjukkan dengan tepat mekanisme yang menjelaskan pergerakan vertikal batuan yang baru.
Seiring dengan diterimanya anomali magnetik bumi yang ditunjukkan dengan lajur-lajur sejajar yang simetris dengan magnetisasi yang sama di dasar laut pada kedua sisi mid-oceanic ridge, tektonik lempeng menjadi diterima secara luas. Kemajuan pesat dalam teknik pencitraan seismik mula-mula di dalam dan sekitar zona Wadati-Benioff dan beragam observasi geologis lainnya tak lama kemudian mengukuhkan tektonik lempeng sebagai teori yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam segi penjelasan dan prediksi.
Penelitian tentang dasar laut dalam, sebuah cabang geologi kelautan yang berkembang pesat pada tahun 1960-an memegang peranan penting dalam pengembangan teori ini. Sejalan dengan itu, teori tektonik lempeng juga dikembangkan pada akhir 1960-an dan telah diterima secara cukup universal di semua disiplin ilmu, sekaligus juga membaharui dunia ilmu bumi dengan memberi penjelasan bagi berbagai macam fenomena geologis dan juga implikasinya di dalam bidang lain seperti paleogeografi dan paleobiologi.

Prinsip-prinsip Utama

Bagian lapisan luar, interior bumi dibagi menjadi lapisan litosfer dan lapisan astenosfer berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Llitosfer lebih dingin dan kaku, sedangkan astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer kehilangan panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan panas melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel.
Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempengan adalah bahwa litosfer terpisah menjadi lempengan-lempengan tektonik yang berbeda-beda. Lempengan ini bergerak menumpang di atas astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan lempengan bisa mencapai 10-40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic Ridge, ataupun bisa mencapai 160 mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng Nazca.[16][17]
Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik yang di atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material kerak.
Yang pertama adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan "sima", gabungan dari silikon dan magnesium.
Yang kedua adalah kerak benua yang sering disebut "sial", gabungan dari silikon dan aluminium.
Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua mencapai 30-50 km sedangkan kerak samudera hanya 5-10 km.
Dua lempeng akan bertemu di sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya terjadi seperti gempa bumi dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif dan dikenal luas.
Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia.
Perbedaan antara kerak benua dengan kerak samudera ialah berdasarkan kepadatan material pembentuknya.
  • Kerak samudera lebih padat daripada kerak benua dikarenakan perbedaan perbandingan jumlah berbagai elemen, khususnya silikon.
  • Kerak benua lebih padat karena komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon dan lebih banyak materi yang berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih bersifat mafik ketimbang felsik.[18] Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah permukaan laut seperti sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul ke atas permukaan laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi.

Jenis-jenis Batas Lempeng

Tiga jenis batas lempeng (plate boundary).
Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak relatif terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan dengan fenomena yang berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah:
  1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat). Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.
  2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting) yang aktif adalah contoh batas divergen
  3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. Palung laut yang dalam biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang (Japanese island arc).

Kekuatan Penggerak Pergerakan Lempeng

Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer samudera dan karakter astenosfer yang relatif lemah. Pelepasan panas dari mantel telah didapati sebagai sumber asli dari energi yang menggerakkan lempeng tektonik. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat pergerakan lempengan.
Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera pada mulanya memiliki kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak-pergerakan lempengan. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempengan untuk bergerak secara mudah menuju ke arah zona subduksi [19] Meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat penggerak-pergerakan lempengan, masih ada gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan adanya lempengan seperti lempengan Amerika Utara, juga lempengan Eurasia yang bergerak tetapi tidak mengalami subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik penelitian intensif dan diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi.
Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik) menunjukkan adanya distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini bisa bersifat material (dari kimia batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal (melalui ekspansi dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy forces) [20] Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu atau lain cara, energi ini harus dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak. Ada dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan gravitasi.

Gaya Gesek

Basal drag
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga pergerakan didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.
Slab suction
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di palung samudera. Penyerotan lempengan (slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam mantel, meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi lempengan, atas dan bawah

Gravitasi

Runtuhan gravitasi: Pergerakan lempeng terjadi karena lebih tingginya lempeng di oceanic ridge. Litosfer samudera yang dingin menjadi lebih padat daripada mantel panas yang merupakan sumbernya, maka dengan ketebalan yang semakin meningkat lempeng ini tenggelam ke dalam mantel untuk mengkompensasikan beratnya, menghasilkan sedikit inklinasi lateral proporsional dengan jarak dari sumbu ini. :Dalam teks-teks geologi pada pendidikan dasar, proses ini sering disebut sebagai sebuah doronga. Namun, sebenarnya sebutan yang lebih tepat adalah runtuhan karena topografi sebuah lempeng bisa jadi sangat berbeda-beda dan topografi pematang (ridge) yang melakukan pemekaran hanyalah fitur yang paling dominan. Sebagai contoh, pembengkakan litosfer sebelum ia turun ke bawah lempeng yang bersebelahan menghasilkan kenampakan yang bisa memengaruhi topografi. Lalu, mantel plume yang menekan sisi bawah lempeng tektonik bisa juga mengubah topografi dasar samudera.
Slab-pull (tarikan lempengan)
Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat lempeng yang dingin dan padat yang turun ke mantel di palung samudera.[21] Ada bukti yang cukup banyak bahwa konveksi juga terjadi di mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di mid-oceanic ridge mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini. Beberapa model awal Tektonik Lempeng menggambarkan bahwa lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti ban berjalan.
Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer tidaklah cukup kuat untuk secara langsung menyebabkan pergerakan oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab pull sendiri sangat mungkin menjadi gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang lebih baru juga memberi peranan yang penting pada penyerotan (suction) di palung, tetapi lempengan seperti Lempeng Amerika Utara tidak mengalami subduksi di manapun juga, tetapi juga mengalami pergerakan seperti juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antarktika. Kekuatan penggerak utama untuk pergerakan lempengan dan sumber energinya itu sendiri masih menjadi bahan riset yang sedang berlangsung

Gaya dari luar

Dalam studi yang dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006 dari buletin Geological Society of America Bulletin, sebuah tim ilmuwan dari Italia dan Amerika Serikat berpendapat bahwa komponen lempeng yang mengarah ke barat berasal dari rotasi Bumi dan gesekan pasang bulan yang mengikutinya. Mereka berkata karena Bumi berputar ke timur di bawah bulan, gravitasi bulan meskipun sangat kecil menarik lapisan permukaan bumi kembali ke barat.
Beberapa orang juga mengemukakan ide kontroversial bahwa hasil ini mungkin juga menjelaskan mengapa Venus dan Mars tidak memiliki lempeng tektonik, yaitu karena ketiadaan bulan di Venus dan kecilnya ukuran bulan Mars untuk memberi efek seperti pasang di bumi.[22]
Pemikiran ini sendiri sebetulnya tidaklah baru. Hal ini sendiri aslinya dikemukakan oleh bapak dari hipotesis ini sendiri, Alfred Wegener, dan kemudian ditentang fisikawan Harold Jeffreys yang menghitung bahwa besarnya gaya gesek oasang yang diperlukan akan dengan cepat membawa rotasi bumi untuk berhenti sejak waktu lama.
Banyak lempeng juga bergerak ke utara dan barat, bahkan banyaknya pergerakan ke barat dasar Samudera Pasifik adalah jika dilihat dari sudut pandang pusat pemekaran (spreading) di Samudera Pasifik yang mengarah ke timur. Dikatakan juga bahwa relatif dengan mantel bawah, ada sedikit komponen yang mengarah ke barat pada pergerakan semua lempeng

Signifikansi relatif masing-masing mekanisme

Pergerakan lempeng berdasar pada data satelit GPS NASA JPL. Vektor di sini menunjukkan arah dan magnitudo gerakan.
Vektor yang sebenarnya pada pergerakan sebuah planet harusnya menjadi fungsi semua gaya yang bekerja pada lempeng itu. Namun, masalahnya adalah seberapa besar setiap proses ambil bagian dalam pergerakan setiap lempeng Keragaman kondisi geodinamik dan sifat setiap lempeng seharusnya menghasilkan perbedaan dalam seberapa proses-proses tersebut secara aktif menggerakkan lempeng. satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melihat laju di mana setiap lempeng bergerak dan mempertimbangkan bukti yang ada untuk setiap kekuatan penggerak dari lempeng ini sejauh mungkin.
Salah satu hubungan terpenting yang ditemukan adalah bahwa lempeng litosferik yang lengket pada lempeng yang tersubduksi bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng yang tidak. Misalnya, Lempeng Pasifik dikelilingi zona subduksi (Ring of Fire) sehingga bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng di Atlantik yang lengket pada benua yang berdekatan dan bukan lempeng tersubduksi. Maka, gaya yang berhubungkan dengan lempeng yang bergerak ke bawah (slab pull dan slab suction) adalah kekuatan penggerak yang menentukan pergerakan lempeng kecuali untuk lempeng yang tidak disubduksikan. Walau bagaimanapun juga, kekuatan penggerak pergerakan lempeng itu sendiri masih menjadi bahan perdebatan dan riset para ilmuwan

Lempeng-lempeng utama

Peta lempeng-lempeng tektonik
Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu:
Lempeng-lempeng penting lain yang lebih kecil mencakup Lempeng India, Lempeng Arabia, Lempeng Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng Cocos, Lempeng Nazca, Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia.
Pergerakan lempeng telah menyebabkan pembentukan dan pemecahan benua seiring berjalannya waktu, termasuk juga pembentukan superkontinen yang mencakup hampir semua atau semua benua. Superkontinen Rodinia diperkirakan terbentuk 1 miliar tahun yang lalu dan mencakup hampir semua atau semua benua di Bumi dan terpecah menjadi delapan benua sekitar 600 juta tahun yang lalu. Delapan benua ini selanjutnya tersusun kembali menjadi superkontinen lain yang disebut Pangaea yang pada akhirnya juga terpecah menjadi Laurasia (yang menjadi Amerika Utara dan Eurasia), dan Gondwana (yang menjadi benua sisanya)

Geologi

Geologi adalah Ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya.

Orang yang mempelajari geologi disebut geolog. Mereka telah membantu dalam menentukan umur bumi yang diperkirakan sekitar 4.5 miliar (4.5x109) tahun, dan menentukan bahwa kulit bumi terpecah menjadi lempeng tektonik yang bergerak di atas mantel yang setengah cair (astenosfir) melalui proses yang sering disebut tektonik lempeng.
Geolog membantu menemukan dan mengatur sumber daya alam yang ada di bumi, seperti minyak bumi, batu bara, dan juga metal seperti besi, tembaga, dan uranium serta mineral lainnya yang memiliki nilai ekonomi, seperti asbestos, perlit, mika, fosfat, zeolit, tanah liat, pumis, kuarsa, dan silika, dan juga elemen lainnya seperti belerang, klorin, dan helium.

Sumber : Wikipedia.com